mapeki.org

Selamat Datang di Web Mapeki

Call for Papers 2014

 

SEMNAS MASYARAKAT PENELITI KAYU INDONESIA (MAPEKI) XVII
(Informasi dan pendafdaftaran ONLINE tersedia di http://mapeki.org/mapeki2014)

&

THE 6th INTERNATIONAL SYMPOSIUM OF IWoRS
(Information and ONLINE reg available at http://mapeki.org/iwors2014 )

 

Proceeding Download

Prosiding Seminar Mapeki (XII Bandung dan XII BALI)

 

International Symposium of IWoRS (Rev Edition Proceeding)

Download IWoRS

 

Karya Inovasi dan Diversifikasi Untuk Mengatasi Kelangkaan Kayu

 

Beberapa inovasi pengelolaan hasil hutan baik kayu maupun bukan kayu dimuat dalam buku "102 Inovasi Indonesia - 2010" yang diterbitkan oleh Kementerian Riset dan Teknologi bersama Business Innovation Center (BIC). Buku tersebut memuat 102 karya inovasi dalam berbagai aspek atau bidang, di antaranya terkait dengan pengelolaan hasil hutan. Inovasi di bidang kehutanan akan mendukung pengembangan diversifikasi pengelolaan hasil hutan, baik kayu maupun bukan kayu.

Inovasi pengelolaan hasil hutan yang dimuat dalam buku "102 Inovasi Indonesia-2010" antara lain :

Selanjutnya...

Tambang Liar Ancam Kelestarian DAS

 

9/12/10, PONTIANAK--MICOM:Penambangan emas liar di Kalimantan Barat (Kalbar) kembali marak. Aktivitas ini sangat mengkhawatirkan sebab semakin menambah parah tingkat kerusakan daerah aliran sungai (DAS).

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalbar Hendi Chandra mengungkapkan terdapat sekitar 6.613 hektare (ha) areal penambangan emas ilegal di provinsi ini. Areal pertambangan ini tersebar di 267 lokasi di sejumlah kabupaten.

Menurutnya, keberadaan pertambangan emas liar memberi kontribusi besar terhadap laju kerusakan daerah aliran sungai (DAS) di Kalbar. Di samping itu, perambahan dan konversi hutan menjadi lahan perkebunan.

"Pertambangan ilegal ini tidak hanya dilakukan di darat tapi juga di badan sungai, sehingga menimbulkan erosi, pendangkalan, dan pencemaran sungai," kata Hendi, Rabu (29/12).

Selanjutnya...

17 Ulah Akibat Ekspansi Sawit

 

PONTIANAK— Ada Ada 17 ulah yang terjadi akibat perluasan kelapa sawit diwariskan oleh perluasan perkebunan kelapa sawit. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan Walhi Kalbar dilapangan, 17 ulah dari perluasan tanah tersebutdiantaranya tanah masyarakat diambil perusahaan, konflik yang terjadi antara perusahaan dengan masyarakat, masyarakat dengan masyarakat, terjadinya kriminalisasi terhadap masyarakat (kasus pak Suez Kabupaten Sanggau, Kasus Andi dan Japin di Ketapang).Kasus lain, menurut penulis staff Riset dan Kampanye Walhi Kalbar, Herman S Simanjuntak kasus lain sebagai tambahan yaitu banyaknya aset budaya masyarakat hilang (tempat-

tempat sakral), terjadinya krisis pangan di kampung, areal hutan pasti hilang (hutan adat maupun hutan lindung), satwa liar yang dilindungi maupun belum dilindungi musnah.

“Tanaman atau tumbuhan obat-obatan yang berada dihutan yang menjadi P3Knya masyarakat hilang, bencana banjir selalu menghantui, bencana kekeringan juga terjadi. Bencana asap dikarenakan pembukaan lahan perkebunanan yang umumnya dilakukan dengan cara membakar, krisis air bersih, lahan-lahan gambut yang rusak, pemanasan global dan perubahan iklim,” tegasnya Sabtu (26/12).

Selanjutnya...